Inilah diriku yang sedang dilanda dengan yang namanya asmara. Aku bingung akan rasa ini, ini asmara atau cinta, karena orang-orang biasanya menyebutnya dengan sebutan yang berbeda-beda. Ah, tapi aku tak memikirkan hal itu, yang aku pikirkan adalah Dia. Ya, dia namanya Dia cewe dengan senyum manisnya, wajah yang cantik, kulit yang putih bersih dan rambut yang ........ . Rambut yang...., bingung aku mau mendeskripsikan rambutnya. Bagaimana aku bisa tahu rambutnya bagaimana, karena dia berjilbab kawan.
Tapi, aku tak berani mendekatinya. Karena pikiranku cewe yang berjilbab itu agamanya taat, disentuh kulitnya saja tidak boleh, bagaimana bisa aku mendekatinya. Semuanya tertutup rapat kawan, dari ujung kepala, ah bukan, dari ujung rambut sampai ujung kaki, semuanya tertutup. Ya, Dia begitu benar-benar menjaga auratnya dan benar-benar taat pada agamanya. Muncul lagi petanyaan itu "bagaimana bisa aku mendekatinya?".
bersambung dulu kawan...
di posting di
2nd Room Baliton
Jogja.
Surat Cinta Sang Ikhwan

Surat Cinta sang Ikhwan
assalamu’alaikum wahai engkau yang melumpuhkan hatiku
tak terasa sudah lama aku memendam rasa itu, rasa yang ingin segera kuselesaikan tanpa harus mengorbankan perasaan aku atau dirimu. seperti yang engkau tahu, aku selalu berusaha menjauh darimu, aku selalu berusaha tidak acuh padamu. saat di depanmu, aku ingin tetap berlaku dengan normal walau perlu usaha untuk mencapainya.
takukah engkau wahai yang mampu melumpuhkan hatiku? entah mengapa aku dengan mudah berkata “cinta” kepada mereka yang tak kucintai namun kepadamu, lisan ini seolah terkunci. dan aku merasa beruntung untuk tidak pernah berkata bahwa aku mencintaimu, walau aku teramat sakit saat mengetahui bahwa aku bukanlah mereka yang engkau cintai walaupun itu hanya sebagian dari prasangkaku. jika boleh aku beralasan, mungkin aku cuma takut engkau akan menjadi “illah” bagiku, karena itu aku mencoba untuk mengurung rasa itu jauh ke dalam, mendorong lagi, dan lagi hingga yang terjadi adalah tolakan-tolakan dan lonjakan yang membuatku semakin tidak mengerti.
sakit hatiku memang saat prasangkaku berbicara bahwa engkau mencintai dia dan tak ada aku dalam kamus cintamu, sakit memang, sakit terasa dan begitu amat perih. namun 1000 kali rasa itu lebih baik saat aku mengerti bahwa senyummu adalah sesuatu yang berarti bagiku. ketentramanmu adalah buah cinta yang amat teramat mendekap hatiku, dan aku mengerti bahwa aku harus mengalah.
wahai engkau yang melumpuhkan hatiku, andai aku boleh berdoa kepada tuhan, mungkin aku ingin meminta agar dia membalikkan sang waktu agar aku mampu mengedit saat-saat pertemuan itu hingga tak ada tatapan pertama itu yang membuat hati ini terus mengingatmu. jarang aku memandang wanita, namun satu pandangan saja mampu meluluhkan bahkan melumpuhkan hati ini. andai aku buta, tentu itu lebih baik daripada harus kembali lumpuh seperti ini.
banyak lembaran buku yang telah kutelusuri, banyak teman yang telah kumintai pendapat. sebahagian mendorongku untuk mengakhiri segala prasangku tentangmu tentang dia karena sebahagian prasangka adalah suatu kesalahan,mereka memintaku untuk membuka tabir lisan ini juga untuk menutup semua rasa prasangmu terhadapku. namun di titik yang lain ada dorongan yang begitu kuat untuk tetap menahan rasa yang terlalu awal yang telah tertancap dihati ini dan membukanya saat waktu yang indah yang telah ditentukan itu (andai itu bukan suatu mimpi).
wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku, mungkin aku bukanlah pejantan tangguh yang siap untuk segera menikah denganmu. masih banyak sisi lain hidup ini yang harus ku kelola dan kutata kembali. juga kamu wahai yang telah melumpuhkan hatiku, kamu yang dengan halus menolak diriku menurut prasangkaku dengan alasan belum saatnya memikirkan itu. sungguh aku tidak ingin menanggung beban ini yang akan berujung ke sebuah kefatalan kelak jika hati ini tak mampu kutata, juga aku tidak ingin berpacaran denganmu.
wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku, mungkin saat ini hatiku milikmu, namun tak akan kuberikan setitik pun saat-saat ini karena aku telah bertekad dalam diriku bahwa saat-saat indahku hanya akan kuberikan kepada bidadari-ku nanti. wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku, tolong bantu aku untuk meraih bidadari-ku bila dia bukanlah dirimu.
wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku, tahukah kamu betapa saat-saat inilah yang paling kutakutkan dalam diriku, jika saja dia tidak menganugerahi aku dengan setitik rasa malu, tentu aku telah meminangmu bukan sebagai istriku namun sebagai kekasihku. andai rasa malu itu tidak pernah ada, tentu aku tidak berusaha menjauhimu. kadang aku bingung, apakah penjauhan ini merupakan jalan yang terbaik yang berarti harus mengorbankan ukhuwah diantara kita atau harus mengorbankan iman dan maluku hanya demi hal yang tampak sepele yang demikian itu.
aku yang tidak mengerti diriku…
ingin ku meminta kepadamu, sudikah engkau menungguku hingga aku siap dengan tegak meminangmu dan kau pun siap dengan pinanganku?! namun wahai yang telah melumpuhkan hatiku, kadang aku berpikir semua pasti berlalu dan aku merasa saat-saat ini pun akan segera berlalu, tetapi ada ketakutan dalam diriku bila aku melupakanmu… aku takut tak akan pernah lagi menemukan dirimu dalam diri mereka-mereka yang lain.
wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku, ijinkan aku menutup surat ini dan biarkan waktu berbicara tentang takdir antara kita. mungkin nanti saat dimana mungkin kau telah menimang cucu-mu dan aku juga demikian, mungkin kita akan saling tersenyum bersama mengingat kisah kita yang tragis ini. atau mungkin saat kita ditakdirkan untuk merajut jalan menuju keindahan sebahagian dari iman, kita akan tersenyum bersama betapa akhirnya kita berbuka setelah menahan perih rindu yang begitu mengguncang.
wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku, mintalah kepada tuhan-mu, tuhan-ku, dan tuhan semua manusia akhir yang terbaik terhadap kisah kita. memintalah kepada-nya agar iman yang tipis ini mampu bertahan, memintalah kepada-nya agar tetap menetapkan malu ini pada tempatnya.
wahai engkau yang sekarang kucintai, semoga hal yang terjadi ini bukanlah sebuah dosa.
wassalam
sumber:
assalamu’alaikum wahai engkau yang melumpuhkan hatiku
tak terasa sudah lama aku memendam rasa itu, rasa yang ingin segera kuselesaikan tanpa harus mengorbankan perasaan aku atau dirimu. seperti yang engkau tahu, aku selalu berusaha menjauh darimu, aku selalu berusaha tidak acuh padamu. saat di depanmu, aku ingin tetap berlaku dengan normal walau perlu usaha untuk mencapainya.
takukah engkau wahai yang mampu melumpuhkan hatiku? entah mengapa aku dengan mudah berkata “cinta” kepada mereka yang tak kucintai namun kepadamu, lisan ini seolah terkunci. dan aku merasa beruntung untuk tidak pernah berkata bahwa aku mencintaimu, walau aku teramat sakit saat mengetahui bahwa aku bukanlah mereka yang engkau cintai walaupun itu hanya sebagian dari prasangkaku. jika boleh aku beralasan, mungkin aku cuma takut engkau akan menjadi “illah” bagiku, karena itu aku mencoba untuk mengurung rasa itu jauh ke dalam, mendorong lagi, dan lagi hingga yang terjadi adalah tolakan-tolakan dan lonjakan yang membuatku semakin tidak mengerti.
sakit hatiku memang saat prasangkaku berbicara bahwa engkau mencintai dia dan tak ada aku dalam kamus cintamu, sakit memang, sakit terasa dan begitu amat perih. namun 1000 kali rasa itu lebih baik saat aku mengerti bahwa senyummu adalah sesuatu yang berarti bagiku. ketentramanmu adalah buah cinta yang amat teramat mendekap hatiku, dan aku mengerti bahwa aku harus mengalah.
wahai engkau yang melumpuhkan hatiku, andai aku boleh berdoa kepada tuhan, mungkin aku ingin meminta agar dia membalikkan sang waktu agar aku mampu mengedit saat-saat pertemuan itu hingga tak ada tatapan pertama itu yang membuat hati ini terus mengingatmu. jarang aku memandang wanita, namun satu pandangan saja mampu meluluhkan bahkan melumpuhkan hati ini. andai aku buta, tentu itu lebih baik daripada harus kembali lumpuh seperti ini.
banyak lembaran buku yang telah kutelusuri, banyak teman yang telah kumintai pendapat. sebahagian mendorongku untuk mengakhiri segala prasangku tentangmu tentang dia karena sebahagian prasangka adalah suatu kesalahan,mereka memintaku untuk membuka tabir lisan ini juga untuk menutup semua rasa prasangmu terhadapku. namun di titik yang lain ada dorongan yang begitu kuat untuk tetap menahan rasa yang terlalu awal yang telah tertancap dihati ini dan membukanya saat waktu yang indah yang telah ditentukan itu (andai itu bukan suatu mimpi).
wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku, mungkin aku bukanlah pejantan tangguh yang siap untuk segera menikah denganmu. masih banyak sisi lain hidup ini yang harus ku kelola dan kutata kembali. juga kamu wahai yang telah melumpuhkan hatiku, kamu yang dengan halus menolak diriku menurut prasangkaku dengan alasan belum saatnya memikirkan itu. sungguh aku tidak ingin menanggung beban ini yang akan berujung ke sebuah kefatalan kelak jika hati ini tak mampu kutata, juga aku tidak ingin berpacaran denganmu.
wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku, mungkin saat ini hatiku milikmu, namun tak akan kuberikan setitik pun saat-saat ini karena aku telah bertekad dalam diriku bahwa saat-saat indahku hanya akan kuberikan kepada bidadari-ku nanti. wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku, tolong bantu aku untuk meraih bidadari-ku bila dia bukanlah dirimu.
wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku, tahukah kamu betapa saat-saat inilah yang paling kutakutkan dalam diriku, jika saja dia tidak menganugerahi aku dengan setitik rasa malu, tentu aku telah meminangmu bukan sebagai istriku namun sebagai kekasihku. andai rasa malu itu tidak pernah ada, tentu aku tidak berusaha menjauhimu. kadang aku bingung, apakah penjauhan ini merupakan jalan yang terbaik yang berarti harus mengorbankan ukhuwah diantara kita atau harus mengorbankan iman dan maluku hanya demi hal yang tampak sepele yang demikian itu.
aku yang tidak mengerti diriku…
ingin ku meminta kepadamu, sudikah engkau menungguku hingga aku siap dengan tegak meminangmu dan kau pun siap dengan pinanganku?! namun wahai yang telah melumpuhkan hatiku, kadang aku berpikir semua pasti berlalu dan aku merasa saat-saat ini pun akan segera berlalu, tetapi ada ketakutan dalam diriku bila aku melupakanmu… aku takut tak akan pernah lagi menemukan dirimu dalam diri mereka-mereka yang lain.
wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku, ijinkan aku menutup surat ini dan biarkan waktu berbicara tentang takdir antara kita. mungkin nanti saat dimana mungkin kau telah menimang cucu-mu dan aku juga demikian, mungkin kita akan saling tersenyum bersama mengingat kisah kita yang tragis ini. atau mungkin saat kita ditakdirkan untuk merajut jalan menuju keindahan sebahagian dari iman, kita akan tersenyum bersama betapa akhirnya kita berbuka setelah menahan perih rindu yang begitu mengguncang.
wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku, mintalah kepada tuhan-mu, tuhan-ku, dan tuhan semua manusia akhir yang terbaik terhadap kisah kita. memintalah kepada-nya agar iman yang tipis ini mampu bertahan, memintalah kepada-nya agar tetap menetapkan malu ini pada tempatnya.
wahai engkau yang sekarang kucintai, semoga hal yang terjadi ini bukanlah sebuah dosa.
wassalam
sumber:
- facebook seorang teman
- Dudung
belum ada judul
Ini sebuah cerita bukan sebuah fakta
Tapi jika ada realitanya maka ini adalah fakta
Realita yang aku lihat lewat mata
Bukan maksud menyindir lewat kata-kata
Kisah gadis cantik nan jelita
Terusik manis oleh rayuan cinta
Tergombalisasi manis oleh seorang pria
Yang Bergaya jantan bak seorang ksatria
Sang ksatria pun ungkapkan cinta
Him say i love u..
Her say i love u..
Maka jadilah sebuah jalinan cinta
Memulai masa-masa indah
Berbagi bahagia~senang~resah ataupun susah
Hingga datang suatu musibah
Yang membuat mereka pecah belah
Putus sudah tak ada lagi suatu ikatan
Gadis cantik nan jelita pun berusaha tuk lupakan
Biarkan semua yang lalu jadi kenangan
Hingga tak ada lagi beban
Kehidupan baru pun dimulainya
Tanpa mengenang sang mantannya
Tanpa banyak bertanya-tanya
Akan ada apa ke depannya
Hingga suatu hari
Datang seorang pria lain mendekati
dan Gadis cantik nan jelita pun jatuh hati
lagi-lagi!! jalinan cinta terjadi
TAPI
lagi-lagi!! jalinan cintanya sampai di sini
jalinan cintanya putus lagi
Ada pria yang jatuh hati dan mendekati
Gadis cantik pun langsung jatuh hati
Tanpa banyak basa-basi
Jalinan cinta langsung terjadi
Kau bagai piala bergilir
Hati ini terkilir
Karena kau anggap pria sebagai kamar pas
Memilikimu sudah tak pantas
Ha-ha..
why you too easy too fall in love
Did ypu never think
Love is not as easy too finding a rock on the banks of river
Tapi jika ada realitanya maka ini adalah fakta
Realita yang aku lihat lewat mata
Bukan maksud menyindir lewat kata-kata
Kisah gadis cantik nan jelita
Terusik manis oleh rayuan cinta
Tergombalisasi manis oleh seorang pria
Yang Bergaya jantan bak seorang ksatria
Sang ksatria pun ungkapkan cinta
Him say i love u..
Her say i love u..
Maka jadilah sebuah jalinan cinta
Memulai masa-masa indah
Berbagi bahagia~senang~resah ataupun susah
Hingga datang suatu musibah
Yang membuat mereka pecah belah
Putus sudah tak ada lagi suatu ikatan
Gadis cantik nan jelita pun berusaha tuk lupakan
Biarkan semua yang lalu jadi kenangan
Hingga tak ada lagi beban
Kehidupan baru pun dimulainya
Tanpa mengenang sang mantannya
Tanpa banyak bertanya-tanya
Akan ada apa ke depannya
Hingga suatu hari
Datang seorang pria lain mendekati
dan Gadis cantik nan jelita pun jatuh hati
lagi-lagi!! jalinan cinta terjadi
TAPI
lagi-lagi!! jalinan cintanya sampai di sini
jalinan cintanya putus lagi
Ada pria yang jatuh hati dan mendekati
Gadis cantik pun langsung jatuh hati
Tanpa banyak basa-basi
Jalinan cinta langsung terjadi
Kau bagai piala bergilir
Hati ini terkilir
Karena kau anggap pria sebagai kamar pas
Memilikimu sudah tak pantas
Ha-ha..
why you too easy too fall in love
Did ypu never think
Love is not as easy too finding a rock on the banks of river
Siapa yang jujur
Katanya Mereka
Aku ini hina
Katanya Kalian
Aku ini berdosa
Katanya Dia
Aku ini lalai
Meraka berkata
Aku ini hina
Kalian Berkata
Aku ini berdosa
Dia berkata
Aku ini lalai
Meraka
Kalian
Dia
dan Aku bertanya
Lantas siapa yang jujur
Di antara kita semua
by Mumtaz
at
Kota Satria
Aku ini hina
Katanya Kalian
Aku ini berdosa
Katanya Dia
Aku ini lalai
Meraka berkata
Aku ini hina
Kalian Berkata
Aku ini berdosa
Dia berkata
Aku ini lalai
Meraka
Kalian
Dia
dan Aku bertanya
Lantas siapa yang jujur
Di antara kita semua
by Mumtaz
at
Kota Satria
Mawar hanya menyimpan durinya.
Aku senang melihat dia secara diam-diam saat pelajaran di kelas. Ini sudah sejak lama aku lakukan dan tak pernah ketahuan. Mungkin hanya aku seorang yang tidak berani berbicara degannya. Dia gadis cantik berambut hitam berlesung pipit. Mungkin karena itulah banyak cowo-cowo yang cari perhatian padanya, tetapi aku tidak. Apa aku tidak berani ataukah aku malu berbicara dengan dia? ah mungkin tidak dua-duanya.
Apa aku ini seorang pemalas yang tidak mau berurusan yang namanya cinta disaat remaja, yang orang-orang atau remaja-remaja menyebutnya dengan pacaran. Setelah aku melihat dia dan berpikir, ternyata aku ini pemalas yang tidak mau berurusan dengan hal macam itu.
Entah sejak kapan dia berbalik memandangku dengan tatapan yang begitu sinis dan tajam. Aku baru menyadarinya ketika bel pergantian pelajaran di bunyikan, "ngapain kamu liat-liat aku seperti itu?!" mungkin itu arti dari tatapan sinisnya tadi.
Ada hal yang ingin aku katakan pada kalian, dia cantik dan berlesung pipit tapi dia memiliki sikap yang jutek. Dan dia juga hanya suka pada cowo-cowo yang dandanannya distro, tidak seperti aku yang dandanannya sederhana. Itulah sebabnya cowo-cowo di kelasku bergaya distro mulai dari sepatu sampai tas, kadang-kadang ada juga yang memakai boxer di saat jam olahraga.
Aku mulai heran dengan ini, satu wanita bisa mengalihkan cowo-cowo satu kelas. Mungkin ini yang disebut "satu bunga memikat banyak lebah" agak berlebihan memang. Tapi itu kata-kata jujur yang keluar dari pikiranku. Aku tak mau tahu kalian percaya atau tidak, tapi ini kenyataannya kawan. Tapi ingat masih ada satu lebah yang tak hinggap di bunga itu, yaitu aku.
Dia tak lagi memandangku dengan sinis, sekarang dia memandangku dengan senyuman. Aku benar-benar bingung dengan ini. Apa artinya ini? apakah mawar tak lagi berduri? . Ah mungkin mawar hanya menyimpan durinya. Tiba-tiba senyum itu berubah menjadi senyuman sinis. Ternyata dugaanku benar, mawar hanya menyimpan durinya yang tajam. Sejak itulah aku berhenti memandangnya.
By
Mumtaz at Kota Satria
Apa aku ini seorang pemalas yang tidak mau berurusan yang namanya cinta disaat remaja, yang orang-orang atau remaja-remaja menyebutnya dengan pacaran. Setelah aku melihat dia dan berpikir, ternyata aku ini pemalas yang tidak mau berurusan dengan hal macam itu.
Entah sejak kapan dia berbalik memandangku dengan tatapan yang begitu sinis dan tajam. Aku baru menyadarinya ketika bel pergantian pelajaran di bunyikan, "ngapain kamu liat-liat aku seperti itu?!" mungkin itu arti dari tatapan sinisnya tadi.
Ada hal yang ingin aku katakan pada kalian, dia cantik dan berlesung pipit tapi dia memiliki sikap yang jutek. Dan dia juga hanya suka pada cowo-cowo yang dandanannya distro, tidak seperti aku yang dandanannya sederhana. Itulah sebabnya cowo-cowo di kelasku bergaya distro mulai dari sepatu sampai tas, kadang-kadang ada juga yang memakai boxer di saat jam olahraga.
Aku mulai heran dengan ini, satu wanita bisa mengalihkan cowo-cowo satu kelas. Mungkin ini yang disebut "satu bunga memikat banyak lebah" agak berlebihan memang. Tapi itu kata-kata jujur yang keluar dari pikiranku. Aku tak mau tahu kalian percaya atau tidak, tapi ini kenyataannya kawan. Tapi ingat masih ada satu lebah yang tak hinggap di bunga itu, yaitu aku.
Dia tak lagi memandangku dengan sinis, sekarang dia memandangku dengan senyuman. Aku benar-benar bingung dengan ini. Apa artinya ini? apakah mawar tak lagi berduri? . Ah mungkin mawar hanya menyimpan durinya. Tiba-tiba senyum itu berubah menjadi senyuman sinis. Ternyata dugaanku benar, mawar hanya menyimpan durinya yang tajam. Sejak itulah aku berhenti memandangnya.
By
Mumtaz at Kota Satria
Langganan:
Postingan (Atom)

